Saturday, December 3, 2016

HUBUNGAN STRUKTUR DENGAN ARSITEKTUR

Struktur Sebagai Faktor Penentu Bentuk
Dalam semua bangunan adalah perlu untuk memikul beban-beban dan gaya-gaya luar dari atap, lantai, dan tembok melalui mekanisme pemikulan beban ke tanah. Rancangan dan pengembangan sistem struktural sehubungan dengan suatu konsep bangunan merupakan salah satu keputusan formal penting yang dibuat arsitek. Pentingnya struktur sebagai penentu bentuk dapat dilihat dalam daerah bisnis pusat dari hampir setiap kota besar didunia. Bentuk dan skala sebagian besar gedung kantor yang penting telah diputuskan hampir semata-mata ditetapkan oleh pertimbangan-pertimbangan jarak antar kolom, efisiensi bagian-bagian bentangan, dan beban angin.

Adalah penting untuk diamati bahwa, dengan bertambahnya ukuran bangunan bangunan, persoalan struktur menjadi penentu bentuk yang pokok menjadi semakin berpengaruh. Akan disadari bahwa pada skala kediaman perorangan adalah mungkin, dan dalam banyak hal sangat diperlukan, untuk kurang mengutamakan masalah struktural. Pada bagian lain dari skala-seperti hanya gelanggang, aula, dan stadion - sama jelasnya bahwa suatu rancangan konseptual tanpa suatu kerangka struktural yang teliti dan terpadu baik akan kelihatannya saja bagus.
Beberapa arsitek dan insyinyur tetap berpendapat bahwa agar suatu karya arsitektur  dianggap baik dan unggul, suatu bangunan harus merupakan suatu paduan yang saling berpautan antara soal-soal rancangan ruang, konsep, dan struktur. Titik tolak pandangan ini mengemukakan bahwa sistem struktural memberikan suatu kerangka yang mencangkup bagi penyatu semua unsur lain dengan berhasil yang bersama-sama merupakan dasar untuk arsitektur. Dalam hubungan ini, struktur dianggap sebagai faktor penentu dalam proses perancangan dan demikian memberikan watak estetik dasar dari bangunan. 


Pada waktu yang sama, terdapat bangunan-bangunan yang penentu bentuk utamanya mungkin di dasarkan atas metafora, seni ukir, spiritual, atau lambang, dengan struktur memainkan peranan penunjang dalam perancangan.
Terlepas dari tolak pandang yang berlainan ini, sama sekali tidak terdapat perbedaan pendapat akan pentingnya struktur dalam arsitektur dan perlunya arsitek memahami prinsip-prinsip pokok perancangan struktural dan penggunaannya. Perbedaan mungkin timbul sehubungan dengan sifat dan luas ekspresi struktural pada setiap proyek arsitektur, tapi hampir semua arsitek akan sependapat bahwa struktur merupakan salah satu aspek pengaturan dari rancangan bangunan.  
 
Struktur Sebagai Prinsip yang Mengatur
Struktur dapat dipikirkan sebagai prinsip perancangan yang mengatur maupun mekanisme pemikulan beban. Dalam hubungan ini, penstrukturan mengandung arti tindakan menetapkan hirarki dan tatanan sekaligus dari segi perwujudan ruang arsitektural dan tenaga fisik.
Salah satu keputusan awal yang dibuat selama proses perancangan bangunan ialah menetapkan ukuran petak (bay) struktural. Biasanya keputusan ini dibuat sehubungan dengan pola pemanfataan ruang yang sudah diperhitungkan dan memasukkan keluwesan, yang dapat dilaksanakan, dalam memperkirakan perubahan-perubahan di masa depan.
Ukuran petak, yang menentukan lokasi kolom, menghasilkan ukuran-ukuran yang tidak tepat tidak saja dari semua bagian struktur, tapi dari semua komponen dan juga subsistem. Hubungan tiap bagian dengan seluruh struktur memberikan watak arsitektural yang memuaskan dan mempersatukan serta suatu mekanisme bagi penyebaran gaya-gaya secara logis.


Banyak sekali persoalan yang harus dipertimbangkan dalam perancangan suatu bangunan. perancangan tata kota, perilaku lingkungan, dan soal-soal lain telah ditambahkan pada syarat-syarat tradisional untuk "Kekukuhan, komoditi, dan kenyamanan". Dalam hubungan ini, rancangan arsitektural dianggap tergantung pada jumlah variable yang makin bertambah. Prioritas rancangan ditetapkan oleh arsitek sehubungan dengan syarat-syarat program khusus untuk setiap proyek. Maka dapatlah dikatakan bahwa bagian terbesar pemilihan bangunan dari sistem struktural biasanya adalah salah satu dari prioritas tertinggi dalam sebuah proses perancangan. Jadi, penentuan awal dari sistem rasional dan logis dapat merupakan dasar guna menghadapi secara efektif jajaran penuh dari prioritas rancangan.   
 
Bentuk Alami dan Bentuk Buatan 
Bentuk-bentuk alami tanaman dan hewan memberikan kepada perancang pengertian-pengertian yang berharga ke dalam struktur dan rancangan. Semua bentuk dalam alam dapat dianggap sebagai mekanisme pemikulan beban, dengan karakteristik-karakteristiknya yang merupakan hasil tanggapan struktural intern terhadap kondisi-kondisi beban luar. Sesungguhnya, bila orang menyelidiki sejarah evolusi tumbuhan dan hewan, menjadi jelaslah bahwa mereka tidak memiliki tanggapan-tanggapan struktural yang cocok dengan dorongan luar tidak sanggup terus berlanjut hidup. Pengembangan sistem-sistem struktural yang tepat dan berhasil dalam bentuk alamiah kini disekitar kita menyebabkan kehadiran yang berkesinambungan.


Sebatang pohon merupakan contoh yang baik sekali untuk melakukan analisis dari titik pandang struktural. Sesudah mengadakan penyelidikan, kita dapat melihat bahwa  batangnya cukup tebal maupun kuat untuk mendukung beban-beban vertikal dari dahan ketanah. Pada waktu yang sama batang tersebut, cukup fleksibel untuk menahan beban cabang-cabang samping yang agak banyak. Dahan-dahannya meluas kesamping terus dan menunjang sistem dedaunan, namun tidaklah begitu berat hingga terkulai ke bawah akibat salju dan es. Struktur akarnya menyebar ke bawah seperti jari-jari lingkaran ke bawah tanah untuk menyebar bobot total pohon tersebut sekaligus kebidang tanah yang luas dan membentuk jangkar agar jangan tumbang karena angin. Jadi pohon tersebut memberikan pengertian kedalam rancangan arsitektural untuk merancang sistem tanggap-gaya dimana tiap komponen melaksanakan fungsi struktural setempat yang serasi dan semuanya secara bersama-sama membentuk suatu kesatuan yang dapat dipahami dan dilayani.
Hubungan bentuk alami dengan bentuk yang dipilih para pembangun dan perancang selama beradab-abad tidak hanya sekedar kebetulan. Tak ubahnya seperti gua-gua batu-alam, dengan segala kemungkinannya, membuat gagasan lengkungan sebagai suatu metode konstruksi, demikian pula unsur-unsur dalam alam memberikan identitas konseptualnya pada gagasan-gagasan struktural yang berlaku. Konstruksi beton cangkang tipis dan cangkang telur adalah homonim persepsi, seperti struktur jaring laba-laba dan jaring kabel, struktur-struktur ikan tiup (blow-fish) dan tompangan udara, dan sistem-sistem struktur sel daun dan pelat berusuk isosatik. Kemanapun kita melihat adalah mungkin untuk membuat hubungan kesimpulan antara bentuk alam dan bentuk buatan.
    

Referensi:
Snyder, J. C., & Catanese, A. J. 1984. Pengantar Arsitektur. Erlangga, Jakarta

Artikel Terkait