Thursday, November 24, 2016

SISTEM PENCAHAYAAN BANGUNAN



Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia menciptakan cahaya hanya dari api, walaupun api memiliki lebih banyak sumber panas dari pada cahaya. Di abad ke 21 ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya melalui lampu pijar. Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam.

Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20-45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3-10% untuk pemakaian energi total oleh plant industri. Oleh karena begitu banyaknya penggunaan energy yang digunakan pada pencahayaan sebuah bangunan dan semakin memburuknya kondisi bumi akibat penggunaan energy yang berlebihan maka perlu dilakukan penghematan energy dalam segala aspek kehidupan demi masa depan yang lebih baik lagi.
Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik memungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat.
Di dalam arsitektur pemanfaatan pencahayaan alami selalu menjadi bagian penting yang selalu diperhitungkan dalam perancangan. Pencahayaan alami mampu menciptakan ruangan secara visual. Menurut Lechner perancang yang peka selalu menyadari bahwa apa yang kita lihat merupakan konsekuensi baik dari kualitas rancangan maupun kualitas cahaya yang jatuh ke atasnya.
Pencahayaan alami pada ruangan difungsikan untuk memenuhi kebutuhan ruang akan cahaya, dan untuk segi estetika. Kualitas ruang yang tida sesuai dengan fungsi ruangan berakibat pada tidak berjalan dengan baik kegiatan yang ada. Ruang dengan cahaya yang sedikit menyebabkan ruang tersebut menjadi gelap dan dingin. Pencahayaan yang terlalu terang akan meyebabkan silau dan kurang baik bagi mata.
Kenyamanan berada pada suatu ruangan dapat diciptakan dari kualitas pencahayaan dalam ruangan tersebut. Untuk memperoleh kenyamanan visual dalam ruangan,pencahayaan dapat dirancang untuk menonjolkan obyek, atau menambah daya tarik khusus dari sudut-sudut ruang.

Sistem Pencahayaan Bangunan
Menurut sumber cahayanya pencahayaan pada bangunan dibagi menjadi 2, yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang memanfaatkan sumber cahaya alami yaitu matahari sedangkan pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang memanfaatkan sumber cahaya buatan seperti lampu. 

Pada dasarnya sistem pencahayaan bangunan dapat dikelompokkan menjadi :
1.        Sistem pencahayaan merata
Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan yang merata di seluruh ruangan, digunakan jika tugas visual yang dilakukan di seluruh tempat dalam ruangan memerlukan tingkat pencahayaan yang sama. Tingkat pencahayaan yang merata diperoleh dengan memasang armatur secara merata langsung maupun tidak langsung di seluruh langitlangit.
2.        Sistem pencahayaan setempat
Sistem ini memberikan tingkat pencahayaan pada bidang kerja yang tidak merata. Ditempat yang diperlukan untuk melakukan tugas visual yang memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi, diberikan cahaya yang lebih banyak dibandingkan dengan sekitarnya. Hal ini diperoleh dengan mengkonsentrasikan penempatan armatur pada langit-langit di atas tempat tersebut.
3.        Sistem pencahayaan gabungan merata dan setempat. 

Sistem pencahayaan gabungan didapatkan dengan menambah sistem pencahayaan setempat pada sistem pencahayaan merata, dengan armatur yang dipasang di dekat tugas visual.
Sistem pencahayaan gabungan dianjurkan digunakan untuk :
1.        Tugas visual yang memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi.
2.        Memperlihatkan bentuk dan tekstur yang memerlukan cahaya datang dari arah tertentu.
3.        Pencahayaan merata terhalang, sehingga tidak dapat sampai pada tempat yang terhalang tersebut.
4.        Tingkat pencahayaan yang lebih tinggi diperlukan untuk orang tua atau yang kemampuan penglihatannya sudah berkurang. 

Jenis-Jenis Alat Penerangan
Berbicara soal system pencahayaan pada bangunan tidak bisa dipisahkan dengan jenis penerangan yang biasa digunakan pada sebuah bangunan, berikut adalah macam-macam jenis-jenis alat penerangan yang biasa digunakan dalam bangunan: 

1.        Lampu Pijar (GLS)
Lampu pijar menghasilkan cahayanya dengan pemanasan listrik dari kawat filamennya pada temperatur yang tinggi. Temperatur ini memberi radiasi dalam daerah tampak dari spektrum radiasi yang dihasilkan. Komponen utama lampu pijar terdiri dari : 
           Filamen
Makin tinggi temperatur filamen, makin besar energi yang jatuh pada spectrum radiasi tampak dan makin besar efikasi dari lampu. Pada saat ini jenis filament yang dipakai adalah tungsten.
           Bola lampu
Filamen suatu lampu pijar ditutup rapat dengan selubung gelas yang dinamakan bola lampu. Bentuk bola lampu bermacam-macam dan juga warna gelasnya. Bentuk bola (bentuk A), jamur (bentuk E), bentuk lilin dan lustre dengan bola lampu bening, susu atau buram dan dengan warna merah, hijau, biru atau kuning
           Gas pengisi
Penguapan filamen dikurangi dengan diisinya bola lampu dengan gas inert. Gas yang umumnya dipakai adalah Nitrogen dan Argon.
           Kaki lampu
Untuk pemakaian umum, tersedia dua jenis yaitu : kaki lampu berulir dan kaki lampu bayonet, yang diindentifikasikan dengan huruf E (edison) dan B (Bayonet), selanjutnya diikuti dengan angka yang menyatakan diameter kaki lampu dalam milimeter (E27, E14dan lain-lain). Bahan kaki lampu dari alumunium atau kuningan. 

Lampu pijar bertindak sebagai ‘badan abu-abu’ yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1. Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting.
Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari kawat pijar, sehingga daya hantar yang rendah menjadi penting. Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya.
Ciri-ciri :
a.         Efficacy (12 lumens/Watt)
b.        Indeks Perubahan Warna (1A)
c.         Suhu Warna - Hangat (2.500K – 2.700K)
d.        Umur Lampu (1-2.000 jam) 

2.    Lampu Tungsten—Halogen
Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar – bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.
Ciri-ciri:
a.         Efficacy (18 lumens/Watt)
b.        Indeks Perubahan Warna  (1A)
c.         Suhu Warna – Hangat (3.000K-3.200K)
d.        Umur Lampu (2-4.000 jam)
Kelebihan:
a.         Lebih kompak
b.        Umur lebih panjang
c.         Lebih banyak cahaya
d.        Cahaya lebih putih (suhu warna lebih tinggi)
Kekurangan
a.         Lebih mahal
b.        IR meningkat
c.         UV meningkat
d.        Masalah handling 

3.    Lampu Neon
Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien dari pada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pad 253,7nm dan 185nm.
Bagian dalam dinding kaca memiliki pelapis tipis fospor, hal ini dipilih untuk menyerap radiasi UV dan meneruskannya ke daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%. Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, sebab katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal. Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini memungkinkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.

Pengaruh suhu
Operasi lampu yang paling efisien dicapai bila suhu ambien berada antara 20 dan 30°C untuk lampu neon. Suhu yang lebih rendah menyebabkan penurunan tekanan merkuri, yang berarti bahwa energi UV yang diproduksi menjadi semakin sedikit; oleh karena itu, lebih sedikit energy UV yang berlaku sebagai fospor sehingga sebagai hasilnya cahaya yang dihasilkan menjadi sedikit. Suhu yang tinggi menyebabkan pergeseran dalam panjang gelombang UV yang dihasilkan sehingga akan lebih dekat ke spektrum tampak. Makin panjang panjang gelombang UV akan makin sedikit pengaruhnya terhadap fospor, dan oleh karena itu keluaran cahaya pun akan berkurang. Pengaruh keseluruhannya adalah bahwa keluaran cahayanya jatuh diatas dan dibawah kisaran suhu ambien yang optimal. 

Ciri-ciri:
1.        Halofosfat
      Efficacy (80 lumens/Watt (gir HF menaikan nilai ini sebesar 10%))
      Indeks Perubahan Warna (2-3)
      Suhu Warna (apa saja)
      Umur Lampu (7-15.000 jam)
2.        Tri-fosfor
      Efficacy (90 lumens/Watt)
      Indeks Perubahan Warna (1A-1B)
      Suhu Warna (apa saja)
      Umur Lampu (7-15.000 jam) 

Lampu neon kompak yang tersedia saat ini membuka seluruh pasar bagi lampu neon. Lampu-lampu ini dirancang dengan bentuk yang lebih kecil yang dapat bersaing dengan lampu pijar dan uap merkuri di pasaran lampu dan memiliki bentuk bulat atau segi empat. Produk di pasaran tersedia dengan gir pengontrol yang sudah terpasang (GFG) atau terpisah (CFN). 

Ciri-ciri:
           Efficacy (60 lumens/Watt)
           Indeks Perubahan Warna (1B)
           Suhu Warna (Hangat, Menengah)
           Umur Lampu (7-10.000 jam) 

4.    Lampu Sodium
a.    Lampu Sodium Tekanan Tinggi
Lampu sodium tekanan tinggi (HPS) banyak digunakan untuk penerapan di luar ruangan dan industri. Efficacy nya yang tinggi membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik daripada metal halida, terutama bila perubahan warna yang baik bukan menjadi prioritas. Lampu HPS berbeda dari lampu merkuri dan metal halida karena tidak memiliki starter elektroda; sirkuit balas dan starter elektronik tegangan tinggi. Tabung pemancar listrik terbuat dari bahan keramik, yang dapat menahan suhu hingga 2372F.
Didalamnya diisi dengan xenon untuk membantu menyalakan pemancar listrik, juga campuran gas sodium – merkuri.

Ciri-ciri:
      Efficacy (50 - 90 lumens/Watt)
      Indeks Perubahan Warna (1 – 2)
      Suhu Warna (Hangat)
      Umur Lampu (24.000 jam, perawatan lumen yang luar biasa)
      Pemanasan (10 menit), pencapaian panas (dalam waktu 60 detik)
      Mengoperasikan sodium pada suhu dan tekanan yang lebih tinggi menjadikan sangat reaktif.
      Mengandung 1-6 mg sodium dan 20 mg merkuri
      Gas pengisinya adalah Xenon. Dengan meningkatkan jumlah gas akan menurunkan merkuri, namun membuat lampu jadi sulit dinyalakan.
      Arc tube (tabung pemacar cahaya) didalam bola lampu mempunyai lapisan pendifusi untuk mengurangi silau.
      Makin tinggi tekanannya, panjang gelombangnya lebih luas, dan CRI nya lebih baik, efficacy nya lebih rendah. 

b.    Lampu Sodium Tekanan Rendah
Walaupun lampu sodium tekanan rendah (LPS) serupa dengan sistim neon (sebab keduanya menggunakan sistim tekanan rendah), mereka umumnya dimasukkan kedalam keluarga HID. Lampu LPS adalah sumber cahaya yang paling sukses, namun produksi semua jenis lampunya berkualitas sangat jelek. Sebagai sumber cahaya monokromatis, semua warna nampak hitam, putih, atau berbayang abu-abu. Lampu LPS tersedia dalam kisaran 18-180 watt. Penggunaan lampu LPS umumnya hanya untuk penggunaan luar ruang seperti penerangan keamanan atau jalanan dan jalan dalam gedung, penggunaan watt nya rendah dimana kualitas warnanya tidak penting (seperti ruangan tangga). Walau demikian, karena perubahan warnanya sangat buruk, beberapa daerah tidak mengijinkan penggunaan lampu tersebut untuk penerangan jalan raya. 

Ciri-ciri:
           Efficacy (100 – 200 lumens/Watt)
           Indeks Perubahan Warna (3)
           Suhu Warna (Kuning (2.200K))
           Umur Lampu (16.000 jam)
           Pemanasan (10 menit), pencapaian panas (sampai 3 Menit) 

5.    Lampu Uap Merkuri
Lampu uap merkuri merupakan model tertua lampu HID. Walaupun mereka memiliki umur yang panjang dan biaya awal yang rendah, lampu ini memiliki efficacy yang buruk (30 hingga 65 lumens per watt, tidak termasuk kerugian balas) dan memancarkan warna hijau pucat. Isu paling penting tentang lampu uap merkuri adalah bagaimana caranya supaya digunakan jenis sumber HID atau neon lainnya yang memiliki efficacy dan perubahan warna yang lebih baik. Lampu uap merkuri yang bening, yang menghasilkan cahaya biru-hijau, terdiri dari tabung pemancar uap merkuri dengan elektroda tungsten di kedua ujungnya. Lampu tersebut memiliki efficacy terendah dari keluarga HID, penurunan lumen yang cepat, dan indeks perubahan warna yang rendah. Disebabkan karakteristik tersebut, lampu jenis HID yang lain telah menggantikan lampu uap merkuri dalam banyak penggunaannya. Walau begitu, lampu uap merkuri masih merupakan sumber yang populer untuk penerangan taman sebab umur lampunya yang mencapai 24.000 jam dan bayangan taman yang hijaunya terlihat seperti gambaran hidup. Pemancar disimpan di bagian dalam bola lampu yang disebut tabung pemancar. Tabung pemancar diisi dengan gas merkuri dan argon murni. Tabung pemancar tertutup di dalam bola lampu yang berada diluarnya, yang diisi dengan nitrogen. 

Ciri-ciri:
      Efficacy (50 - 60 lumens/Watt)
      Indeks Perubahan Warna (3)
      Suhu Warna (Menengah)
      Umur Lampu (16.000 – 24.000 jam)
      Gir pengendali alat elektroda ketiga lebih sederhana dan lebih mudah dibuat. Beberapa negara telah menggunakan MBF untuk penerangan jalan dimana lampu kuning SOX dianggap tidak pantas.
      Tabung     pemancar         mengandung   100      mg       gas merkuri     dan      argon. 

Pembungkusnya adalah pasir kwarsa.
      Tidak terdapat pemanas awal katoda, elektroda ketiga dengan celah yang lebih pendek untuk memulai pelepasan
      Bola lampu bagian luar dilapisi fospor. Hal ini akan memberi cahaya merah tambahan dengan menggunakan UV, untuk mengkoreksi bias pelepasan merkuri.
      Pembungkus kaca bagian luar mencegah lepasnya radiasi UV 

6.    Lampu Kombinasi
Lampu kombinasi kadang disebut sebagai lampu two-in-one. Lampu ini mengkombinasikan dua sumber cahaya yang tertutup dalam satu lampu yang diisi gas. Salah satu sumbernya adalah tabung pelepas merkuri kuarsa (seperti sebuah lampu merkuri) dan sumber lainnya adalah kawat pijar tungsten yang disambungkan secara seri. Kawat pijar ini bertindak sebagai balas untuk tabung pelepasan yang menstabilkan arus, jadi tidak diperlukan balas yang lain. 
Kawat pijar tungsten digulung dengan susunan melingkar pada tabung pelepasan dan dihubungkan dalam susunan seri. Lapisan bubuk fluorescent diletakkan ke bagian dalam dinding lampu untuk mengubah sinar UV yang dipancarkan dari tabung pelepas ke cahaya nampak. Pada penyalaan, lampu hanya memancarkan cahaya dari kawat pijar tungsten, dan selama perjalanan sekitar 3 menit, pemancar didalam tabung pelepas melesat mencapai keluaran cahaya penuh. Lampu ini cocok untuk area anti nyala dan dapat disesuaikan dengan perlengkapan lampu pijar tanpa modifikasi. 

Ciri-ciri
      Nilainya biasanya 160 W
      Efficacy 20 hingga 30 Lm/W
      Faktor daya tinggi 0,95
      Umur 8000 jam 

7.         Lampu Metal Halida
Halida bertindak sama halnya dengan siklus halogen tungsten. Manakala suhu bertambah maka terjadi pemecahan senyawa halida melepaskan logam ke pemancar. Halida mencegah dinding kuarsa diserang oleh logam-logam alkali.

Ciri-ciri
      Efficacy (80 lumens/Watt)
      Indeks Perubahan Warna (1A – 2) tergantung pada campuran halide
      Suhu Warna (3.000K – 6.000K)
      Umur Lampu (6.000 – 20.000 jam)
      Pemanasan (2-3 menit), pencapaian panas (dalam waktu 10-20 menit)
      Pemilihan warna, ukuran, dan nilainya lebih besar untuk MBI daripada jenis lampu lainnya. Jenis ini merupakan versi yang dikembangkan dari dua lampu pelepas dengan intensitas tinggi, dan cenderung memiliki efficacy yang lebih baik
      Dengan menambahkan logam lain ke merkuri, spektrum yang berbeda dapat dipancarkan
      Beberapa lampu SBI menggunakan elektroda ketiga untuk memulai penyalaan, namun untuk yang lainnya, terutama lampu peraga yang lebih kecil, memerlukan denyut penyalaan tegangan tinggi 

8.         Lampu LED
Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan sumber cahaya yang efisien energinya. Ketika lampu LED memancarkan cahaya nampak pada gelombang spektrum yang sangat sempit, mereka dapat memproduksi “cahaya putih”. Hal ini sesuai dengan kesatuan susunan merah-biru hijau atau lampu LED biru berlapis fospor. Lampu LED bertahan dari 40.000 hingga 100.000 jam tergantung pada warna. Lampu LED digunakan untuk banyak penerapan pencahayaan seperti tanda keluar, sinyal lalu lintas, cahaya dibawah lemari, dan berbagai penerapan dekoratif.
Walaupun masih dalam masa perkembangan, teknologi lampu LED sangat cepat mengalami kemajuan dan menjanjikan untuk masa depan. Pada cahaya sinyal lalu lintas, pasar yang kuat untuk LED, sinyal lalu lintas warna merah menggunakan lampu 10W yang setara dengan 196 LEDs, menggantikan lampu pijar yang menggunakan 150W. Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar dari 82% hingga 93%. Produk pengganti LED, diproduksi dalam berbagai bentuk termasuk batang ringan, panel dan sekrup dalam lampu LED, biasanya memiliki kekuatan 2-5W masing-masing, memberikan penghematan yang cukup berarti dibanding lampu pijar dengan bonus keuntungan masa pakai yang lebih lama, yang pada gilirannya mengurangi perawatan. 

Kesimpulan
Menurut sumber cahayanya pencahayaan pada bangunan dibagi menjadi 2, yaitu pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pada dasarnya sistem pencahayaan bangunan dapat dikelompokkan menjadi: sistem pencahayaan merata, sistem pencahayaan setempat, sistem pencahayaan gabungan merata dan setempat. Sistem pencahayaan gabungan dianjurkan digunakan untuk: tugas visual yang memerlukan tingkat pencahayaan yang tinggi, memperlihatkan bentuk dan tekstur yang memerlukan cahaya datang dari arah tertentu, pencahayaan merata terhalang, sehingga tidak dapat sampai pada tempat yang terhalang tersebut, tingkat pencahayaan yang lebih tinggi diperlukan untuk orang tua atau yang kemampuan penglihatannya sudah berkurang.
Soal sistem pencahayaan pada bangunan tidak bisa dipisahkan dengan jenis penerangan yang biasa digunakan pada sebuah bangunan seperti: lampu pijar, lampu tungsten—halogen, lampu neon, lampu sodium, lampu uap merkuri, lampu kombinasi, lampu metal halida, dan lampu LED.
Sekarang dengan semakin memburuknya kondisi bumi akibat penggunaan energy yang berlebihan mau tidak mau memaksa sebagian besar masyarakat dunia berlomba-lomba menghemat penggunaan energy demi masa depan yang lebih baik lagi. Berikut adalah berbagai cara untuk mengefisiensikan energy dalam bangunan yang berkaitan dengan pencahayaan bangunan seperti: penggunaan pencahayaan alami siang hari, pencahayaan tugas khusus, pemilihan lampu dan pencahayaan yang berefisiensi tinggi, pengurangan tegangan pengumpan pencahayaan, balass elektronik, kehilangan kecil chokes elektromagnetik untuk cahaya tabung, pencatat waktu, saklar malam & sensor penempatan, dan perawatan lampu 

Saran
Dengan mempelajari sistem pencahayaan pada bangunan setidaknya kita akan lebih mengetahui cara untuk memberikan efek visual pada sebuah bangunan di mana agar pencahayaan pada bangunan tidak hanya sekedar menarik untuk di lihat namun juga efektif untuk di presentasikan kepada pengguna.
Isu yang paling penting pada abad 21 ini adalah penggunaan energi, di mana energi sebagian besar habis di gunakan untuk penggunaan cahaya pada sebuah bangunan, cahaya merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dan sekaligus pada bidang arsitektur akan memaksakan penggunaan energi melalui penggunaan pencahayaan pada bangunan, di sini kita di tuntut agar dapat tetap menghasilkan efek visual yang bagus dan menarik namun tetap efisien dalam pengaplikasiannya dan penggunaannya agar tidak hanya arsitektur yang estetis namun juga arsitektur yang ramah terhadap lingkungan sekitarnya.

Referensi:
https://id.scribd.com/doc/110347843/Sistem-Pencahayaan-bangunan-Dan-penghemat-Energi

Artikel Terkait